Breaking News
Home » Travel » Suasana Ramadan di Amerika Begitu Terasa di Dearborn, Michigan

Suasana Ramadan di Amerika Begitu Terasa di Dearborn, Michigan

Suasana Ramadan di Amerika 2014Dearborn, Michigan merupakan tempat dimana komunitas Muslim terbesar di Amerika dan dari sinilah suasana Ramadan di Amerika begitu terasa. Seperti dilansir situs VOA-indonesia, Abbas Ammar seorang pengelola restoran di Dearborn yakni Al-Ameer, tetap membuka rumah makannya seperti biasa dan pelanggan restaurannya yang kebanyakan non-Muslim membuatnya sibuk bekerja seperti pada bulan-bulan lainnya.

Ia berujar bahwa “Enam puluh persen pelanggan Al-Ameer adalah non-Muslim. Mereka sama sekali tidak terpengaruh oleh Ramadan,” Ketika ditanya apakah sulit berpuasa sambil tetap bekerja tanpa tergoda mengudap, ia mengatakan, “Saya berusaha tetap sibuk seperti biasa. Saya tahu ini bulan Ramadan, dan saya berpuasa karena Allah. Jadi mata saya tertuju pada sesuatu yang mendatangkan pahala.”

Hal ini sangat umum dirasakan Muslim yang berpuasa di Amerika. Dimana berbagai kesibukan dan kegiatan yang biasa dilakukan mereka sehari-hari tidak berubah sama sekali. Ini menjadikan puasa di Amerika lebih merupakan urusan pribadi. Namun, di banyak tempat di Amerika, aspek kemasyarakatan Ramadan yang umumnya dilakukan di masjid atau tempat-tempat berkumpul lainnya sangat menonjol di mana buka puasa dilakukan dengan cara potluck, yaitu setiap orang yang datang diharapkan membawa sumbangan makanan untuk dinikmati bersama; budaya yang bagi kebanyakan orang Timur tidak biasa.

Tetapi, dengan cara ini kita bisa “keliling dunia” mencicipi beragam hidangan manca negara, karena berbuka dengan orang dari berbagai latar belakang etnis dan bahkan non-Muslim. Kehadiran warga non-Muslim dalam acara berbuka ini semakin terlihat lazim di Amerika. Ashraf Sufi dan keluarganya yang tinggal di Topeka, Kansas, misalnya, kerap mengundang tetangga-tetangganya yang non-Muslim untuk berbuka bersama. Ia mengatakan bahwa acara berbuka di rumahnya sudah lama menjadi seperti ajang dialog antar agama, karena seringkali kedatangan sekitar 70 orang, termasuk dari kelompok Nasrani, Yahudi, Budha, dan Bahai.

Bagi para lajang dan mahasiswa, pemesanan makanan halal siap saji melalui internet membantu mereka yang mencari santapan berbuka atau sahur tetapi tidak mempunyai waktu untuk memasak. Sementara, banyak yang menggunakan berbagai media sosial, seperti Twitter, untuk saling berhubungan apakah untuk mengajak sahur bersama di restauran yang buka 24 jam atau membahas Al-Qur’an di masjid.

Check Also

Festival Kopi dan Mie di Banda Aceh 2018

  Festival Kopi dan Mie Di Banda Aceh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Tahun ini ...