Breaking News
Home » Event » Urban » Senin Sinema Dunia : Neo-Asia

Senin Sinema Dunia : Neo-Asia

NEO-ASIA

Perubahan geopolitik dan geoekonomi global pasca 11 September 1999 telah memasukan Asia sebagai salah satu kawasan yang ‘perlu’ diperhatikan bagi dunia internasional. Ditambah dengan terjadinya krisis ekonomi global di tahun 2008 yang menyebabkan keterpurukan ekonomi negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Asia seakan menjadi ‘cahaya baru’ yang harus dipelajari. Situasi itu juga berimbas pada dunia perfileman Asia. Tengok saja bagaimana ‘jatah’ filem dari Asia kian bertambah pada festival-festival filem Internasional yang notabene, festival-festival itu tidak hanya mengandalkan kekuatan bahasa filemis pada tubuh sinemanya saja tetapi juga pertimbangan lingkup sosial, sejarah, politik, dan ekonomi negara yang menyertainya. Bagaimana kemudian negara-negara yang dikatakan sebagai negara maju baru, negara berkembang atau bahkan terbelakang ini mampu bertahan di dalam situasi krisis global, termasuk krisis identitas yang semakin terlihat pasca populernya kata ‘terorisme’.

Pengalaman sinema di Asia sendiri sebetulnya memiliki sejarah panjang. Jepang, Cina, India, termasuk sebagian kawasan Asia Tenggara merupakan negara-negara awal yang mendapatkan pengalaman sinema melalui penjajah –walau pengalaman memproduksi filem sendiri baru berkembang setelah Perang Dunia I. Pasca Perang Dunia II, berkah Neorealisme Italia juga berimbas ke negara-negara Asia. Metode produksi dan bahasa filem Neorealisme Italia telah menginspirasi masyarakat Asia untuk membuat filem yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masyarakat mereka sendiri. Tidak hanya India dengan realisme Bengali-nya, tetapi juga Indonesia yang melahirkan tokoh Bachtiar Siagian, Kotot Sukardi, Usmar Ismail, dan lain-lain. Kehadiran Gelombang Baru Prancis di masa transisi kehidupan moderen dan pos-moderen di ambang keruntuhan Perang Dingin kisaran tahun 60an, jargon ‘membuat filem itu mudah’ telah mendorong gelombang sutradara-sutradara Asia untuk mempelajari sinema dunia lebih jauh lagi yang tidak berhenti pada cara memproduksi filem tetapi juga kesadaran bahwa filem sebagai alat pernyataan politik terhadap dunia internasional dan akhirnya melahirkan bahasa filem khas Asia seperti Asia Barat (Barat Daya) dan Asia Tengah.

Babak baru dari Sinema Asia Baru lahir atas berkah pertumbuhan teknologi informasi yang mendorong terbukanya akses terhadap pengetahuan tentang sinema dan juga perkembangan teknologi sinema yang merasa ‘terselamatkan atau bahkan tersaingi’ oleh kehadiran video dan teknologi digital di akhir abad ke-20, membuat filem dengan ‘cara mandiri’ seperti yang dilakukan para sutradara-sutradara avant-garde Eropa dan Amerika telah melahirkan gelombang yang luar biasa bagi perkembangan sinema Asia Baru. Gelombang ini bahkan bisa dikatakan ‘sangat mandiri’ ketimbang para sutradara-sutradara avant-garde Eropa dan Amerika yang masih bisa menghela nafas karena ketersediaannya infrastruktur dan sistem yang diatur oleh negara baik yang secara langsung ataupun tidak langsung telah memudahkan mereka menciptakan karya-karya mandiri itu. Sinema Asia Baru justru seakan lahir dan keluar begitu saja dari lubang kata ‘amatir’ untuk mendefinisikan kembali atau bahkan menghancurkan lalu dekonstruksi ulang identitas masyarakatnya yang dibentuk oleh ‘kolonialisme’ dan kuasa masyarakat Barat. Dengan kata lain, pengetahuan masyarakat Barat dimanfaatkan untuk menghancurkan konsep yang mereka bangun tentang masyarakat Asia. Lihat saja bagaimana Tsai Ming-liang, seorang sutradara kelahiran Malaysia yang kemudian bermukim ke Taiwan dan membuat filem yang membicarakan persoalan geopolitik masyarakat Taiwan paska perpindahan kuasa dari Inggris ke Cina. Lalu Trinh T. Minh-ha yang bermukim di Prancis namun memiliki sejarah Vietnam yang patriarkal.

Terlepas dari persoalan perubahan geopolitik dan geoekonomi global, estetika atau bahasa filem dari Sinema Asia Baru telah memberikan warna bagi sinema dunia kontemporer. Pilihan subyek yang dijadikan isu persoalan sosial yang diangkat di dalam filem seperti sejarah kolonialisme, komunisme, kesetaraan jender, homoseksual, mitos-mitos sosial, globalisasi, agama, hingga ‘alih fungsi temuan-teknologi Barat’ yang kental di masyarakat Timur telah memberikan pilihan bahasa dalam estetika filem, seperti misalnya bagaimana kehidupan mistis dibuat menjadi logis di dalam bahasa filem pada filem-filem Apichatpong atau pendefinisian ‘angker’ yang merujuk pada sejarah kelam masyarakat Taiwan atas Cina di dalam filem Goodbye, Dragon Inn.

Pada Senin Senin Sinema Dunia : Neo-Asia yang berlangsung dari bulan Februari hingga Mei akan diputar filem-filem Asia Baru (Neo-Asia) yang sebagian besar dibuat sejak milenium baru (tahun 2000an). Filem-filem yang disutradarai oleh sutradara-sutradara ‘muda’ dari Asia yang bukan terbatas pada ukuran usia tetapi dilihat dari capaian estetika dan isu kontekstual kekinian yang menjadi pembicaraan masyarakat global. Sebagian besar sutradara-sutradara ‘muda’ itu juga bekerja dengan cara mandiri yang tidak hanya berurusan pada produksi tetapi juga pendistribusian baik filem ataupun pengetahuan di dalamnya hingga filem-filem mereka mampu bertarung di dunia internasional.

Pengantar ini ditulis oleh Mahardika Yudha

Filem-filem yang akan diputar:

SSD#9 [52], 11 Februari 2013
Goodbye, Dragon Inn (2003, 82 menit)
Tsai Ming-liang (Malaysia/Taiwan)

SSD#9 [53], 18 Februari 2013
Surename Viet, Given Name Nam (1989, 108 menit)
Trinh T. Minh-ha (Vietnam)

SSD#9 [54], 25 Februari 2013
Petition (2009, 120 menit)
Zhao Liang (Cina)

SSD#9 [55], 4 Maret 2013
The Rice People (1994, 125 menit)
Rithy Panh (Kamboja)

SSD#9 [56], 11 Maret 2013
The River (1997, 115 menit)
Tsai Ming-liang (Malaysia/Taiwan)

SSD#9 [57], 18 Maret 2013
The Island at The End of The World (2005, 108 menit)
Raya Martin (Philipina)

SSD#9 [58], 25 Maret 2013
Fun Bar Karaoke (1997, 103 menit)
Pen-Ek Ratanaruang (Thailand)

SSD#9 [59], 1 April 2013
Chungking Express (1994, 102 menit)
Wong Kar Wai (Hongkong)

SSD#9 [60], 8 April 2013
Postcard From The Zoo (2012, 95 menit)
Edwin (Indonesia)

SSD#9 [61], 15 April 2013
Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives (2010, 114 menit)
Apichatpong Weerasethakul (Thailand)

SSD#9 [62], 22 April 2013
Nymph (film) (2009, 109 menit)
Pen-Ek Ratanaruang (Thailand)

SSD#9 [63], 29 April 2013
Year Without a Summer* (2010, 90 menit)
Tan Chui Mui (Malaysia)

SSD#9 [64], 6 Mei 2013
Here (2009, 86 menit)
Ho Tzu Nyen (Singapura)

SSD#9 [65], 13 Mei 2013
Blissfully Yours (2002, 125 menit)
Apichatpong Weerasethakul (Thailand)

SSD#9 [66], 20-21 Mei 2013
Melancholia (2008, 450 menit)
Lav Diaz (Philipina)

*konfirmasi

Date : 6/05/2013  –  21/05/2013
Time : 19:30

Place :

Eastern Promise Gallery

Jl. Kemang Raya No.5
Jakarta Selatan

Free entrance every monday night.

Check Also

Ice-Cream-Festival-2017

Ice Cream Festival 2017

Tanggal: 4-5 November 2017 Tempat: AEON Mal BSD City, Tangerang Harga tiket masuk: Rp.50.000   ...