Breaking News
Home » Event » Art & Culture » Kurt Wenner, Sosok Utama di Balik Pameran Seni 3D Artphoria 2013

Kurt Wenner, Sosok Utama di Balik Pameran Seni 3D Artphoria 2013

artphoria5Sukses menyelenggarakan “Trick Art Japan” tahun 2012 lalu, kali ini penyelenggara acara yaitu Trimitra Events menyelenggarakan pameran serupa dengan judul “Artphoria 2013”. Kegiatan pameran seni 3D ini berlangsung selama 44 hari dari tanggal 14 Desember 2013 hingga 26 Januari 2014 di Ciputra Artpreneur Center, Ciputra World.

Pengunjung bisa menikmati  acara ini dan berimajinasi melalui 11 karya hasil kreasi Kurt Wenner. Siapakah Kurt Wenner ini?

Kurt Wenner menuntut ilmu di Rhode Island School of Design dan Art Center College of Design, sebelum ia bekerja di NASA sebagai scientific space illustrator. Pada tahun 1982, Wenner meninggalkan NASA dan berpindah ke Roma, Italia, untuk mengejar hasrat dalam bidang seni klasik. Selama di Italia, Wenner mempelajari karya-karya seniman ternama dan banyak menelaah berbagai karya pahat klasik. Karya seninya membuatnya lebih dekat dengan bahasa bentuk di dalam seni figuratif Barat, dan secara tidak langsung memberikan pelatihan seni neo-klasik yang diperlukan untuk mengembangkan karya seni yang ia tekuni. Melalui studinya, Wenner secara spesifik menyatakan ketertarikannya pada periode seni mannerism dan menyadari bahwa seni dengan skala yang monumental dan dekorasi memukau membantunya dalam mengekspresikan hasil karyanya.

Wenner bepergian selama bertahun-tahun untuk mengalami dan merasakan secara langsung berbagai karya seni dan monumen legendaris di Eropa. Selama satu tahun pertama, ia banyak bereksperimen dengan media lukis tradisional seperti tempera, fresco, dan cat minyak. Wenner akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang madonnari atau street painter dan membuat berbagai lukisan di jalanan di Roma untuk membiayai perjalanan studinya. Hanya dalam beberapa tahun saja, Wenner sudah berhasil memenangkan berbagai medali emas di kompetisi seni, dan secara resmi dikenal sebagai master atau ahli dari jenis karya yang dibuatnya. Tahun 1985, karyanya diangkat oleh film dokumenter National Geographic yang berjudul Masterpieces in Chalk, dan memenangkan berbagai penghargaan.

Pengetahuan Wenner mengenai Renaissance klasik tidak hanya dijadikannya sebagai landasan dalam berkarya, namun juga membantunya dalam menggelar berbagai perkuliahan dan workshop di Amerika Serikat. Sebagai seseorang yang mementingkan pendidikan seni, Wenner sudah mengajar lebih dari 100 ribu murid dalam periode waktu 10 tahun. Beliau juga menerima medali Kennedy Center atau Kennedy Center Medallion sebagai bentuk penghargaan untuk keterlibatannya dalam pendidikan seni. Selain mengajar, ia juga terlibat di berbagai kegiatan perusahaan dan beragam seminar serta workshop untuk organisasi ternama seperti National Gallery of Art dan The Smithsonian Institution, Disney Studios, Warner Bros Studios, Toyota, dan General Motors.

Pada tahun 1984, Wenner menciptakan suatu bentuk karya seni miliknya sendiri yang dikenal dengan sebutan anamorphic atau 3D street painting. Bentuk perspektif ini, yang dikenal dengan anamorphism, banyak digunakan oleh seniman ternama Eropa untuk memberikan ilusi arsitektur agar terkesan menjulang dan menciptakan figus-figur yang terbentang di lukisan dinding pada langit-langit, atau yang lebih dikenal dengan fresco. Terinspirasi dari perspektif tersebut, Wenner menciptakan jenis geometri yang baru untuk menyusun karya seni yang terkesan muncul dari tanah atau jatuh ke dalam tanah.

Perspektif anamorphic tradisional membuat lukisan terlihat dalam posisi yang benar jika dilihat dari satu titik yang sangat jauh. Wenner mengoreksi distorsi tersebut dengan membentuk suatu bentuk geometri lain, sehingga karya-karyanya bisa dinikmati dengan proporsi yang normal jika dilihat dari posisi yang lebih dekat, namun miring dengan curam. Jenis geometri ini dikenal sebagai Wenner’s Hyperbolic Perspective.

Setiap jenis karya seni figuratif, sekalipun lukisan berbingkai, selalu menyimpan sejumlah ilusi. Dua jenis ilusi yang paling utama adalah ilusi konvensional dan ilusi optik. Lukisan dalam sebuah bingkai termasuk dalam ilusi konvensional. Para penikmat dapat memilih untuk melihat bingkai yang ada sebagai jendela atau sebagai pintu untuk memasuki dunia visual seni lukis. Hal ini banyak dikenal dengan sebutan “a willing suspension of disbelief” atau “kesukarelaan untuk merasakan ketegangan dari sebuah bentuk ketidakpercayaan”. Bingkai lukisan juga bisa dianggap sebagai sebuah garis yang membatasi dunia nyata dan imajiner. Sang penikmat melihat karya sebagai sebuah lukisan di dinding lama sebelum ia melihat subyeknya. Ilusi optik bertujuan mengaburkan batas-batas antara yang nyata dan yang imajiner.

Geometri yang diciptakan Wenner dan semua kesuksesan yang berhasil diraih melalui film dokumenter National Geographic berhasil menginspirasi berbagai komunitas seni untuk membuat festival street painting. Saat ini tak terhitung jumlah acara dan festival street painting di seluruh dunia yang menarik banyak seniman amatir dan profesional, serta berbagai penonton dan anak-anak. Selama 20 tahun belakangan ini, ratusan juta orang di seluruh dunia telah melihat gambar-gambar lukisan 3D di jalan aspal, baik secara langsung, melalui televisi, atau internet.

artphoria1 artphoria2 artphoria3 artphoria4

Check Also

Aceh International Rapa’i Festival 2018

Aceh International Rapa’i Festival Festival Musik Perkusi Internasional memiliki daya tarik tersendiri yang bersifat unik ...