
Fenomena alam, Gerhana Bulan Total (GBT), akan menghiasi langit-langit Jakarta pada Sabtu, 4 April 2015 pukul 17.52.26 WIB. Untuk pertama kalinya GBT akan terlihat di Indonesia setelah Matahari terbenam dan Bulan naik.
Ini merupakan GBT yang ketiga dari empat gerhana bulan yang terjadi secara berurutan. Pertama pada 15 April 2014, kedua pada 8 Oktober 2014, sedangkan yang terakhir pada 28 September 2015.
GBT ini merupakan rangkaian dari empat GBT yang terjadi pada 2014 dan 2015. Fenomena tersebut termasuk langka karena gerhana terjadi secara berurutan, para astronom juga mengenalnya dengan Gerhana Bulan Tetrad yang dalam seribu tahun di milenium ketiga, hanya terdapat 32 kali fenomena ini.
Seri Gerhana Bulan Tetrad pertama pada milenium ketiga, terjadi sebelas tahun silam pada 16 Mei dan 9 November 2003 serta 4 Mei dan 28 Oktober 2004. Jarak antarseri Gerhana Bulan Tetrad bisa dalam rentang 7 tahun, 11, 18, 22 tahun, hingga 311 dan 293 tahun.
GBT terjadi saat sebagian atau keseluruhan penampang Bulan tertutup oleh bayangan Bumi. Hal ini dikarenakan Bumi berada di antara Matahari dan Bulan pada satu garis lurus yang sama, sehingga sinar Matahari tidak dapat mencapai Bulan karena terhalangi oleh Bumi. Saat GBT terjadi maka Bulan akan tampak berwarna merah pada 5 menit selama fase puncak gerhana, itulah mengapa fenomena ini sering juga disebut “Blood Moon”. Tapi warna yang dihasilkan Bulan tergantung pada kondisi luar angkasa Bumi.
GBT berbeda dengan Gerhana Matahari Total (GMT) yang juga akan terjadi di atas langit Indonesia pada 2016. GBT dapat diamati langsung dengan mata telanjang namun diperlukan juga teropong dan teleskop bintang agar pengamatan lebih jelas.
Pada 4 April, GBT hanya bisa dilihat di Asia (termasuk Indonesia), Australia, Pasifik dan Amerika. Daerah lain tidak bisa mengamatinya karena posisi Bulan berada di bawah cakrawala dari penglihatan. Namun GBT keempat yang terjadi pada 28 September tidak akan terlihat di Indonesia karena gerhana terjadi di siang hari saat Bulan berada di bawah pandangan pengamat. GBT keempat akan terlihat di timur Pasifik, Amerika, Eropa dan Asia Barat.
Planetarium dan Observatorium Jakarta akan mempersiapkan semua kebutuhan terkait fenomena khusus ini. GBT begitu menarik karena pengamat juga bisa mengevaluasi ketepatan perhitungan ephemeris (koordinat benda angkasa). Selama GBT terjadi maka Bumi, Bulan dan Matahari akan selaras, daya tarik gravitas Bulan dan Matahari pun akan menghasilkan gelombang laut yang maksimum.
AcaraEvent.com Online Event Information & Promotion