
Tentang Jazz dan Gunung
“Peristiwa musik sejenis, festival jazz, hampir semuanya digelar di kota dengan lansekap kultur masyarakat urban” – Frans Sartono. Wartawan senior, pemerhati musik.
Sejak tahun 2009, Jazz Gunung telah menjadi agenda tetap festival musik jazz di tanah air. Alam bromo berikut sosio-kultural di sekitarnya bukan sekedar menjadi backdrop, atau latar belakang yang bersifat pelengkap. Kawasan Bromo-Tengger-Semeru justru menjadi panggung hidup. Ia menyatukan semua elemen yang ada di dalam sebuah pertunjukan musik: musisi, musik yang dimainkannya, penonton, serta alam yang membuat semuanya ada dan tampak.
Untuk memberikan sesuatu yang baru kepada masyarakat Indonesia pecinta musik dan alam, Jazz Gunung hadir di pegunungan pada ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut. Jazz yang disuguhkan dalam pagelaran ini adalah jazz yang memberikan ruang, bukan jazz yang terkurung dalam sekat fisik dan dinding gedung.
Tentang Pegunungan Bromo sebagai Pilihan Tempat Penyelenggaraan
Pemilihan kawasan pegunungan Bromo sebagai tempat penyelenggaraan Jazz Gunung berangkat dari beberapa pemikiran mendasar. Antara lain dari aspek pariwisata dimana Bromo termasuk dari tiga destinasi emas “Tiga B”, yaitu Borobudur, Bromo dan Bali.
Namun, Bromo masih terhitung sepi dan cenderung dilewatkan wisatawan. Bromo belum menjadi top of mind dari destinasi wisata yang ada di Indonesia, karena identitas dari Bromo adalah matahari terbit. Para pelancong biasanya datang di sore atau malam hari, kemudian bermalam agar dapat menikmati matahari terbit pada dini hari. Lalu mereka meninggalkan Bromo pada pagi hari.
Walaupun peristiwa matahari terbit di Bromo memang menjadi pesona utama
Bromo yang sudah mendunia, seperti yang diakui oleh situs Lonely Planet, yang menilai peristiwa matahari terbit di Bromo sebagai wisata gunung terbaik ketiga di dunia, setelah Gunung Olympia di Yunani dan Gunung Elbrus di Russia, tampaknya perlu ada alternative pesona wisata lain selain keindahan matahari terbit. Maka, Jazz Gunung hadir sebagai salah satu alternatif identitas pesona Bromo.
Tentang Pesona Bromo selain Matahari Terbit dan Jazz Gunung
Selain menampilkan persona matahari terbit serta panggung terbuka bersatu dengan alam yang dihadirkan lewat Jazz Gunung, Bromo pun memberikan pesona lainnya yang dapat dinikmati tidak jauh dari tempat diselenggarakannya Jazz Gunung. Berikut adalah pesona lain bisa disuguhkan oleh Bromo:
•Bromo–Tengger–Semeru National Park
Taman Nasional Bromo–Tengger–Semeru sudah dinyatakan sebagai hutan yang dilindungi karena keragaman dan kelangkaan habitat terutama flora endemiknya, keaktifan gunung berapinya, pemandangan yang spektakular, serta kultur dan budaya dari suku tradisional Tengger.
•Peak of Mount Pananjakan
Pemandangan spektakular lautan pasir dapat dilihat di puncak gunung ini dengan Gunung Bromo, Batok, dan Semeru sebagai latar belakangnya di ketinggian 2.770 mdpl.
•Ranu Pane & Ranu Kumbolo
Ranu Pane dan Ranu Kumbolo merupakan dua danau alami yang indah, 3 km setelah kaldera selatan. Untuk menuju lokasi Ranu Kumbolo dan Ranu Pane, Anda harus melewati pos pendakian Gunung Semeru.
•The Sea of Sand
Lautan Pasir adalah kawasan yang dilindungi sejak tahun 1919 karena kalderanya yang luas. Anda dapat menikmati pemandangan kaldera sepanjang 8-10 km dan harus melewati titik ini jika Anda ingin mendaki Gunung Bromo.
Profil Jazz Gunung
Jazz Gunung adalah pagelaran musik bertaraf Internasional yang menampilkan komposisi jazz bernuansa etnik dan diselenggarakan setiap tahun sejak tahun 2009. Lokasinya yang berada di daerah pegunungan, di panggung terbuka, beratap langit dan berlatar alam yang indah merupakan perpaduan yang harmonis antara musik, alam dan manusia.
Jazz Gunung ini digagas oleh Sigit Pramono, seorang bankir dan fotografer yang mencintai Bromo dan musik jazz; dan didukung oleh Butet Kartaredjasa, seorang seniman yang serba bisa; serta Djaduk Ferianto, seniman musik yang kerap diundang pentas di mancanegara membawakan world music dengan ciri Indonesia yang kental.
Setelah tiga kali menggelar Jazz Gunung dengan bentuk festival selama satu hari, di tahun 2012 pertama kalinya Jazz Gunung hadir selama dua hari, yakni di Jumat dan Sabtu. Di tahun ini, Jazz Gunung masih hadir dengan format serupa, yaitu di tanggal 21 dan 22 Juni 2013, serta diselenggarakan di tempat yang sama, yaitu panggung terbuka Java Banana Bromo, Desa Wonotoro, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, dengan latar belakang kawasan pegunungan Bromo – Tengger – Semeru.
Animo masyarakat untuk datang dan menyaksikan pagelaran Jazz Gunung terus meningkat, terbukti dengan habisnya tiket Jazz Gunung tahun lalu. Karena itu, tahun ini Jazz Gunung mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebagai agenda pariwisata nasional yang diharapkan dapat mendongkrak potensi pariwisata Jawa Timur. Diharapkan kegiatan ini menjadi salah satu agenda dan destinasi pariwisata Indonesia, sekaligus mengembangkan Bromo agar tidak sekedar sebagai tempat melihat matahari terbit.
Kelebihan Jazz Gunung di tahun 2013
Kemudahan mendapatkan tiket secara online sudah diberlakukan sejak 2012. Tahun ini, Jazz Gunung kembali menerapkan sistem tiket online yang dapat
diakses di situs Jazz Gunung. Serupa dengan tahun lalu, Jazz Gunung juga menawarkan paket tur yang memudahkan para penonton dari segi akomodasi dan transportasi. Namun, di tahun ini Jazz Gunung memberikan beragam jenis alternatif untuk paket tur sesuai dengan selera dan kebutuhan penonton; antara lain paket camping, paket hotel, paket homestay, hingga paket sunrise. Pemesanan paket tur dapat diakses secara online di situs Jazz Gunung (www.jazzgunung.com).
Bagi yang ingin menikmati pesona alam Bromo, Jazz Gunung Indonesia juga menyelenggarakan Pestaraya Bromo. Acara Pestaraya Bromo ini terdiri dari Pestaraya Seni Rakyat, Pestaraya Kuliner, Pestaraya Jip, Pestaraya Sepeda Gunung, dan Pameran Seni. Pestaraya Bromo ini berlangsung pada tanggal 22-30 Juni 2013 dan informasi lebih lanjut dapat diakses di www.pestarayabromo.com
AcaraEvent.com Online Event Information & Promotion