Breaking News
Home » Event » Art & Culture » Helateater Salihara – 70 Tahun Putu Wijaya

Helateater Salihara – 70 Tahun Putu Wijaya

70 Tahun Putu Wijaya pic
Putu Wijaya
Sumber : indonesianfilmcenter.com

70 Tahun Putu Wijaya merupakan penampilan penutup Helateater Salihara 2014 yang akan dipentaskan oleh Teater Mandiri dalam rangka 70 tahun Putu Wijaya. Kali ini Teater Mandiri akan mementaskan tiga naskah karya Putu Wijaya yakni Bila Malam Bertambah Malam (pernah dipentaskan di Helateater Salihara 2013), Hah dan Jpret. Berikut ini adalah sinopsis dan jadwal dari tiga pementasan 70 Tahun Putu Wijaya :

Bila Malam Bertambah Malam
Sutradara: Putu Wijaya

Jumat, 11 April 2014, 20:00 WIB
Durasi: 90 menit

Sinopsis
Ini lakon pertama yang ditulis Putu Wijaya di Yogyakarta pada 1964. Temanya tentang cinta dan perbedaan kasta di Bali. Tersebutlah Gusti Biang, janda seorang pejuang, yang angkuh dan kerap membanggakan kastanya. Suatu ketika ia mengusir Nyoman, pelayannya, yang memaksanya minum obat. Nyoman terpaksa pergi karena sudah bosan diperlakukan sebagai budak. Waktu Ngurah, anak Gusti Biang, tiba di rumah, ia terkejut karena Nyoman tidak ada lagi—Ngurah mencintai Nyoman dan akan menikahi perempuan cantik itu. Di tengah konflik yang meruncing, Wayan, si pelayan tua, membuka semua kedok Gusti Biang.

Hah
Sutradara: Putu Wijaya
Sabtu, 12 April 2014, 20:00 WIB
Durasi : 100 menit

Sinopsis
Hah ditulis oleh Putu Wijaya ketika masih berusia 27 tahun, saat ia tinggal di DeKalb, Chicago, Amerika Serikat, untuk mengajar di kota itu atas undangan Fulbright. Lakon ini menceritakan sebuah keluarga miskin di wilayah kumuh. Mereka hidup kotor dan dibenci oleh tetangga mereka. Tetapi ketika ada kabar mereka menang lotre Rp1 miliar, tetangga mereka berbalik menjadi baik. Sebuah tim sukses datang menawarkan sang suami agar ikut pilkada untuk jadi lurah dengan biaya Rp1 miliar.

Jpret
Sutradara: Putu Wijaya
Minggu, 13 April 2014, 20:00 WIB
Durasi : 75 menit

Sinopsis
Jpret ditulis pada 1999 menjelang pemilu. Awalnya berjudul Krimo, monolog pesanan Amoroso Katamsi untuk dimainkan sebagai monolog pada ulang tahunnya yang ke-70. Tapi karena satu dan lain hal pentas itu batal. Naskah itu kemudian direvisi oleh Putu Wijaya menjadi Jpret. Lakon ini adalah sebuah jepretan terhadap tokoh rakyat kecil bernama Kroco yang terombang-ambing dalam euforia demokrasi dan sistem pemilu langsung. Dialog Kroco memulai dan mengakhiri lakon ini dengan kalimat: “Nama saya Kroco. Sejak lahir saya kroco, sampai tua bangka saya tetap kroco. Setelah Reformasi saya masih kroco. Nanti sesudah pemilu saya kira  pasti saya tetap dijamin kroco. Sekali kroco tetap kroco.”

Tiket dapat diperoleh di sini

Check Also

INTERNATIONAL DESIGN SCHOOL GELAR EXHIBITION KARYA MAHASISWA IDS ANGKATAN 2017 BERTEMAKAN “DISTORTED REALITY”

Jakarta, 8 Juni 2018 – IDS | International Design School resmi menggelar acara Exhibiton bertema ...