Breaking News
Home » Directory » Profesionals » Sugeng Yeah

Sugeng Yeah

Sugeng YeahIa merupakan sosok penting namun tak terlihat dari pementasan seni pertunjukan. Berkatnya panggung akan terlihat hidup dan penuh emosi.

Sebuah pementasan seni pertunjukan menjadi lebih semarak dan mampu menyentuh hati penonton bukan hanya karena kehebatan aktor dan sutradara. Tapi juga, tata cahaya serta setting dan properti. Apalah arti akting sedih yang begitu bagus kalau tata cahayanya sangat terang benderang, tanpa emosi? Untuk itulah, peran penata cahaya menjadi penting. Panggung bisa jadi ruang kosong dan aktor pun tampak bagai boneka mati. Saya obrol-obrol sejenak dengan penata cahaya andal, Sugeng Yeah.

Bagaimana Anda bisa tertarik untuk terlibat menjadi orang di balik panggung seni pertunjukan?

Pada 1986, saya menyaksikan pentas Teater Gandrik yang kerap berlatih di sebuah ruangan, dekat rumah saya. Saya mengikuti setiap latihan, hingga pentas. Namun, ketika pentas, ada banyak adegan dan ekspresi yang berubah jadi lebih dramatis, spektakuler, intinya lebih bagus lah. Setelah saya perhatikan, penataan cahaya memegang peran penting membuat pertunjukan lebih “hidup”. Karakter tiap pemain, ruang yang terbangun di atas panggung, akhirnya membentuk sebuah tontonan yang tidak menjenuhkan. Sejak itu saya tertarik dan mulai mendalami penataan cahaya, sambil membantu Teater Gandrik sebagai kru panggung.

Apakah untuk menjadi penata cahaya yang baik ada syarat khusus?

Pertama-tama, tentu saja tidak boleh buta warna, tidak takut ketinggian, dan tidak takut listrik. Sebagai, penata cahaya kita harus memilih warna yang sesuai dengan materi pertunjukan, memasang lampu pada posisi yang tepat, hingga mengenal jenis-jenis lampu. Selain itu, tentu diperlukan pengetahuan mengenai seni rupa dan tidak boleh tidak, menyukai seni pertunjukan itu sendiri. Dengan belajar seni rupa, kita bisa mengetahui bahwa antara warna, ekspresi, dan bentuk memiliki kesatuan. Sementara, kesukaan kita akan seni pertunjukan memudahkan kita untuk terus belajar, bahkan dari pentas-pentas orang lain.

Sepertinya sangat sulit, ya?

Menjadi profesional yang menguasai suatu bidang adalah sebuah tanggung jawab. Tanggung jawab kepada rekan kerja, kepada penonton. Untuk itu, tidak bisa asal-asal. Saya sendiri lebih banyak melatih diri dengan melakukan berbagai percobaan, seperti mencampur-campur warna, mempelajari lampu, meletakkan lampu dengan berbagai posisi, dan terus belajar melalui buku, video, komputer, bahkan mengikuti pelatihan-pelatihan untuk peningkatan skill sebagai penata cahaya.

Bicara seni pertunjukan, banyak orang ingin tampil di atas panggung. Tapi, menjadi orang di balik panggung apa asyiknya, ya?

Penata cahaya bekerja atas tuntutan naskah dan bekerja sama dengan sutradara mewujudkan sebuah pentas yang baik. Kesenangan saya adalah kesenangan penonton. Jadi, jika penonton bisa terus duduk hingga pertunjukan usai, saya sudah senang. Di balik itu, saya juga bisa mengekspresikan imajinasi melalui tata cahaya. Sungguh, tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Selain itu, pekerjaan ini menantang saya untuk terus kreatif dan inovatif. Untuk sebuah pementasan yang biasanya selesai dalam waktu 2 jam, saya memiliki persiapan berbulan-bulan; bagaimana menghasilkan desain penataan cahaya yang baik, yang sesuai dengan naskah, acting, hingga arahan sutradara. Semua itu butuh perhitungan yang matang. Walau tidak terlihat, kerja di balik layar memiliki kontribusi yang besar.

Anda telah menangani banyak pementasan, baik nasional maupun internasional. Apa ambisi yang masih ingin Anda wujudkan?

Saya ingin keliling Indonesia, mengadakan berbagai pelatihan untuk berbagai grup seni tradisional. Dengan demikian, penataan cahaya seni tradisional bisa lebih berkembang. Dengan teknologi yang sederhana, materi yang seadanya, tetap bisa lebih baik.

sumber : areamagz.com | tahun 2010

Check Also

tohpati

Tohpati – Musisi

Tohpati Ario Hutomo, pria kelahiran Jakarta, 25 Juli 1971 yang lebih dikenal dengan panggilan Tohpati ...