Padusi

Sinopsis

Ada berbagai pemahaman atas kata Padusi dalam bahasa Minangkabau. Padusi, diartikan sebagai perempuan yang diberikan untuk seorang anak puteri. Makna yang lain dapat diartikan sebagai isteri. Sedangkan secara umum dapat diartikan sebagai perempuan. Karya Padusi akan dikemas dalam bentuk drama dan tari diiringi musikal etnis Sumatra Barat. Cerita akan dibuka dengan sosok perempuan urban Jakarta bernama Padusi. Di usianya yang matang ( 35 tahun ) ia ingin merasakan kebebasannya untuk hidup dan memahami akar budaya aslinya. Setelah bercerai dari suaminya, tanpa dikaruniai anak, Padusi merasa bahwa ini saat yang tepat baginya untuk menjelajahi tanah kelahiran nenek moyangnya, apalagi selama hampir sepuluh tahun terakhir, ia ternyata belum bisa merasakan ‘inner happiness’ . Hidup ia jalani berdasarkan keinginan orangtua dan mantan suaminya semata.

Seiring dengan perjalanannya ke berbagai daerah di Sumatera Barat, ia terhanyut dalam tiga cerita tentang perempuan-perempuan  yang melegenda di tanah nenek moyangnya.

Puti Bungsu, seorang bidadari yang datang dari kayangan  terpaksa menerima pinangan Malin Deman, pria kampung yang manja dan sangat tergantung dengan ibunya sebagai suaminya. Puti Bungsu kehilangan sayapnya selesai madi bersama ke enam kakanya di sebuah telaga dan tidak dapat kembali ke kayangan. Ternyata setelah memiliki seorang putera bernama Malin Duano, Puti Bungsu menemukan sayapnya yang disimpan Malin Deman. Dia pun memakainya dan terbang kembali ke kayangan meninggalkan anaknya karena tak mungkin dibawa terbang. Puti Bungsu menjadi sosok perempuan yang terpaksa dalam sebuah perkawinan. Apakah ada cinta dan kasih sayang dalam hubungan mereka, tentu menjadi tandatanya yang besar.

Siti Jamilan, memiliki kisah hidup yang berbeda. Ia dipinang Lareh Simawang dengan rasa cinta yang dalam dan menerimanya dengan sepenuh hati. Namun setelah memiliki tiga anak, pengkhianatan atas cinta itu terjadi. Perempuan cantik yang lebih muda dipersunting oleh Lareh Simawang. Siti Jamilan menepati sumpahnya untuk memilih mati bunuh diri bersama anak-anaknya apabila Lareh Simawang mengkhianatinya dengan sebuah perkawinan yang lain. Siti Jamilan sosok perempuan yang menolak poligami sekaligus  sosok yang setia pada janjinya

Lalu kita akan mengikuti cerita Sabai nan Aluih, yang menolak perjodohannya dengan Rajo Nan Panjang, seorang Datuk tua bangka yang tertarik dengan perempuan muda untuk diperisterinya. Sementara Sabai menolak meskipun ayahnya menjadi korban pembunuhan Rajo Nan Panjang karena tidak dapat membayar hutangnya dan dituntut untuk menjodohkan anak perempuannya dengan sang Datuk. Namun kematian Rajo Nan Panjang diujung bedil Sabai Nan Aluih merupakan penolakan atas pemaksaan perjodohan sekaligus menuntut balas atas kematian ayahnya. Sabai tahu dan menuntut hak nya sebagai perempuan dan manusia.

Tom Ibnur sebagai maestro tari Sumatra Barat tertarik dengan tiga cerita yang diungkapkan dalam latar belakang di atas. Sabai Nan Aluih, sosok perempuan yang tahu akan haknya sebagai perempuan dan menuntut ketidakadilan terhadap dirinya. Sitti Jamilan, sosok perempuan yang memegang teguh atas kesetiaan atas sumpah dan janjinya. Meskipun mengakhiri hidupnya dengan tragis. Puti Bungsu, sosok perempuan yang terpaksa dalam cintanya menerima lelaki senagai pendamping hidupnya. Kemudian berakhir dengan meninggalkan lelaki tersebut.

Sementara itu, tokoh perempuan modern, Padusi, akan mewakili perspektif penonton, sebagai sosok yang humanis yang berusaha memahami dan menghargai cerita tradisi ini untuk menjadi refleksi akan kehidupan yang sekarang. Padusi, akan membuat pertemuan imaginer untuk bersidang memberikan kesempatan pada tokoh-tokoh legenda ini untuk menyampaikan rasa dan pikirannya, mengutarakan hak dan kewajibannya, menyadari kodrat dan keterbatasannya. Agar mereka tak selalu menjadi korban ketidakadilan dalam kehidupan