Breaking News
Home » Event » ‘Menyulap’ Sastra Dan Kampanye Anti-Perkosaan

‘Menyulap’ Sastra Dan Kampanye Anti-Perkosaan

‘Menyulap’ Sastra Dan Kampanye Anti-Perkosaan

DEPOK – ‘Sulap’ bukan lagi hanya seputar hal-hal yang berbau kekuatan gelap dan sihir. Jangan juga membayangkan kelinci yang keluar dari topi atau kain yang berubah menjadi merpati. Meskipun acara EAL Arts Festival 2013 yang diadakan oleh komunitas English Art Lab (EAL) FIB UI ini bertemakan “Sulap Sastra”, arti ‘sulap’ di sini adalah alih-wacana. Acara yang digelar tanggal 22 – 23 Mei 2013 ini bertujuan untuk memperkenalkan ke”magis”an alih-wacana dalam dunia sastra kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.

‘Menyulap’ Sastra Dan Kampanye Anti-Perkosaan

“Sekarang, banyak alih-wacana yang terjadi dalam karya seni. Kita bisa lihat dari novel-novel yang dijadikan film,” ujar Rendy Septiadi, Project Officer keseluruhan acara “Sulap Sastra”. “Alih-wacana, pada dasarnya, adalah peralihan bentuk suatu karya seni.”

‘Menyulap’ Sastra Dan Kampanye Anti-Perkosaan

Acara yang bertempat di Auditorium Gedung IX dan Gedung IV, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya ini diawali dengan peluncuran original soundtrack “Manusia Kayu”, pertunjukan teater dari EAL Arts Festival 2012, yang digarap oleh Avrila “Yuka” Bayu. Ia merupakan salah satu anggota dari grup musik lokal Zivilia. Bentuk-bentuk alih wacana yang dapat ditemukan dalam EAL Arts Festival tahun ini antara lain berupa lomba penulisan puisi dan storytelling antar-SMA se-Jabodetabek. “Untuk menyampaikan ide alih-wacananya, lomba penulisan puisi kami laksanakan dengan menyediakan beberapa foto untuk di”sulap” menjadi sebuah puisi,” terang Rendy.

‘Menyulap’ Sastra Dan Kampanye Anti-Perkosaan

Pada hari pertama festival, bentuk alih-wacana lain juga dapat ditemukan dalam pergelaran tari “Luka“, yang disutradarai oleh Avie Rajanti Putri. Berdurasi kurang-lebih 60 menit, “Luka” menyulap cerita “Bawang Merah, Bawang Putih” menjadi sebuah pertunjukan sendratari yang apik. Hari kedua dan terakhir festival, acara puncak berupa pementasan teater berjudul “Rajam” ditampilkan. Disutradarai oleh Herlin Putri dan Rahadian Adetya, “Rajam” mengangkat kasus perkosaan yang baru-baru ini kembali marak terdengar. “10% dari hasil penjualan tiket akan disumbangkan untuk kegiatan yang mendukung anti-perkosaan,” ujar Herlin Putri.

‘Menyulap’ Sastra Dan Kampanye Anti-Perkosaan

Pertunjukkan yang ditulis oleh Herlin Putri ini merupakan antologi tiga orang perempuan: Laras, Dara, dan Safia. Ketiga perempuan tersebut sama-sama tertimpa musibah yang sama, yakni diperkosa. Laras adalah mahasiswi yang bekerja part-time sebagai SPG yang diperkosa oleh empat lelaki yang tidak ia kenal; Dara adalah seorang siswi SMA dari kalangan berada yang diperkosa oleh pacarnya sendiri; sedangkan Safia adalah arwah pemulung yang diperkosa oleh oknum aparat.

Dalam pementasan berdurasi 90 menit ini, dapat terlihat bagaimana ketiga perempuan itu menjadi korban, bukan hanya kasus perkosaan, tapi juga “rajam” masyarakat. Cara masyarakat menangani dan menghadapi kasus perkosaan terkadang berujung pada tuduhan keji yang akan menjadi “rajam” sesungguhnya bagi para perempuan korban perkosaan. Itu adalah hukuman masyarakat kepada perempuan-perempuan yang sudah menjadi korban, namun tetap disalahkan. Pertunjukan ini, menurut Herlin Putri, menunjukkan kenyataan tentang bagaimana masyarakat cenderung ‘memusuhi’ korban perkosaan. “Rajam dapat menjadi refleksi akan sikap masyarakat, termasuk kita sendiri, dalam melihat kasus perkosaan,” tegasnya.

Apakah kita akan menjadi salah satu dari orang yang menilai tanpa melihat lebih dalam ?

Ditulis oleh:

Sekar Ayu Melati

Check Also

IDS Distorted Reality

INTERNATIONAL DESIGN SCHOOL GELAR EXHIBITION KARYA MAHASISWA IDS ANGKATAN 2017 BERTEMAKAN “DISTORTED REALITY”

Jakarta, 8 Juni 2018 – IDS | International Design School resmi menggelar acara Exhibiton bertema ...