Breaking News
Home » Event » Art & Culture » Bentara Putar Film “Nasionalisme Dalam Film Pendek Indonesia”

Bentara Putar Film “Nasionalisme Dalam Film Pendek Indonesia”

Bentara Putar Film “Nasionalisme dalam Film Pendek Indonesia”

Gagasan nasionalisme atau rasa kebangsaan tak pernah ada di ruang hampa. Ia selalu tumbuh dan berkembang dalam konteks tertentu di masyarakat. Pada usia kemerdekaan Indonesia ke-68 rasa kebangsaan masyarakat Indonesia dihidupi oleh berbagai situasi sosial ekonomi dan politik di negeri ini. Sumber daya alam tanah air Indonesia yang seringkali tak menetes merata mengakibatkan selaksa manusia mempertanyakan untuk siapa sebenarnya kekayaan alam bumi Indonesia. Pengabaian pemenuhan hak-hak hidup masyarakat yang tinggal di wilayah perbatasan dengan Negara tetangga memunculkan keinginan untuk berpaling kewarganegaraan. Berbagai peristiwa kekerasan berbasis agama tanpa penegakan hukum oleh Negara menimbulkan rasa gelisah dan kekhawatiran bahwa tak akan ada lagi ruang hidup bagi kaum minoritas di negeri ini. Kondisi-kondisi tersebut menguji kembali ke-Indonesiaan kita.

Pada bulan Agustus 2013 ini, Bentara Putar Film menghadirkan pergulatan masyarakat Indonesia terhadap rasa kebangsaan mereka melalui film-film pendek karya sejumlah sutradara Indonesia. Bekerjasama dengan komunitas Festival Film Dokumenter* yang berbasis di Yogyakarta dan komunitas Boemboe di Jakarta, Bentara Budaya Jakarta mempersembahkan 20-an film pendek Indonesia, baik dokumenter maupun fiksi, yang dibuat pada rentang tahun 2000-an.

Film pendek pada hakikatnya memiliki karakteristik tersendiri yang menjadikannya berbeda dengan film cerita panjang. Kekhasan tersebut disandang bukan karena sempit dalam pemaknaan atau proses pembuatannya lebih mudah serta anggaran minim. Tetapi karena film pendek merupakan medium khusus yang memberikan ruang gerak ekspresi yang lebih leluasa, baik bagi para pembuat film maupun subyek yang diteropong.

Di samping pemutaran film, program kali ini juga akan menampilkan Boemboe Forum yakni forum film pendek tahunan yang mempertemukan jaringan komunitas Boemboe yang tersebar di seluruh Indonesia. Boemboe Forum diadakan sejak tahun 2004 bekerjasama dengan pihak-pihak yang memiliki kepedulian dan komitmen mengembangkan film pendek Indonesia. Forum ini merupakan ruang pertanggungjawaban kreatif pembuat film pendek dari berbagai genre, tema dan kota. Setiap pembuat film mempresentasikan karyanya secara individual dan berdiskusi langsung dengan para pembuat film pendek lainnya maupun para penonton yang hadir. Boemboe Forum mengundang 6 pembuat film dari Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Malang dan Palu.

 Jadwal Acara Bentara Putar Film adalah sebagai berikut:

Jumat, 30 Agustus 2013

15.30 – 17.00 : “Indonesia Banget” : pemutaran empat film pendek fiksi yang memperlihatkan kekhasan masyarakat Indonesia. Jika menonton film-film ini kita akan tahu bahwa peristiwa-peristiwa yang dimediasikan dalam empat film tersebut adalah kisah masyarakat Indonesia.

1. “Garis Bawah” (Ray Pakpahan, 2011, 20 menit)

Kemalangan tak henti menerpa Surti, perempuan pemulung yang selalu berkeliling dengan gerobak. Ketika suaminya meninggal dunia, Surti membawa jenazah suaminya di dalam gerobak, berkeliling kota mencari tempat untuk memakamkannya. Karena tak memiliki semua persyaratan seperti uang, KTP, Surat Kematian, tempat peristirahatan terakhir suaminya tak bisa didapat.

2. “Palak” (Jaka Triadi, 2012, 9 menit)

Film ini memotret siklus kekerasan dan modus pemerasan (palak) yang terjadi di kota Surabaya. Prinsipnya, manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

3. “Boncengan” (Senoaji Julius, 2012, 17 menit)

Lomba lari di Sekolah Dasar diwarnai berbagai kecurangan. Hadiah sepeda adalah segalanya.

4. “Binekon: Kelapa” (Oktodia Mardoko & Haryadhi, 2012, 7 menit)

Merupakan film animasi dengan ciri dan karakter Indonesia. Berkisah tentang 5 mahluk lucu yang mewakili 5 pulau Indonesia: Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Papua.

5. “Sinema Purnama” (Andra Fembriarto, 2012, 27 menit)

Ahmad nekat mengadakan festival film yang memutar film-film Islam dengan tema yang cenderung beraliran garis keras. Namun, tak ada seorang pun yang mau hadir di ajang pemutaran film-film tersebut, kecuali seorang janda kesepian, Mbak Sari, yang non-Islam.

17.00 – 18.00 : Diskusi film pendek bersama sutradara Andra Fembriarto.

Andra Fembriarto telah menyutradarai tujuh film pendek diantaranya Gamelan Noise, Pohon Penghujan, Sinema Purnama dan Projek Bahagia! Alumni University of Technology, Sydney  ini senang membuat cerita fantasi/dongeng dari apa yang dilihatnya di Indonesia. Ia terus menulis kitab fantasinya, Kitab Kirana Amarana bersama kelompok kreatifnya di Studio Amarana. Selain itu, ia juga membuat web “Jalan-Jalan Men” dan “Sunset on a Rooftop” di Malesbanget.com.

18.30 – 20.15 : “Batas-Batas Rasa Kebangsaan”: pemutaran empat film pendek dokumenter yang meneropong pergulatan rasa kebangsaan manusia-manusia Indonesia sebagai akibat situasi sosial ekonomi yang mendera. Adakah batas elan nasionalisme di masyarakat Indonesia?

1.“Indonesiaku di Tepi Batas” (Elsa Adelina dan Deny Sofian, 2011, 28 menit)

Kisah kehidupan masyarakat di wilayah perbatasan Kalimantan dan Malaysia. Pelayanan publik dan infrastruktur yang buruk menciptakan banyak kesulitan. Sebaliknya, mereka merasakan banyak kemudahan ketika berhubungan dengan warga di negeri tetangga. Film ini mendapat penghargaan film pendek documenter terbaik pada Festival Film Dokumenter Yogyakarta 2011.

2.“Indonesia Bukan Negara Islam” (Jason Iskandar, 2009, 10 menit)

Potongan foto-foto ditampilkan untuk merefleksikan pengalaman seorang pelajar Muslim yang belasan tahun belajar di sekolah non-Muslim. Di sisi lain, ia melihat realitas kelompok garis keras memaksakan kebenarannya sendiri. Film ini telah memperoleh penghargaan film terbaik di beberapa festival film pendek maupun documenter di Indonesia (Purbalingga, Yogyakarta, Jakarta) maupun Special Mention for Exploration of Medium pada Asia Africa International Film Festival.

3. “Presiden Republik Abu-Abu” (Paramitha Andika dan Afief Riyadi, 2011, 20 menit)

Merekam perjuangan warga Jakarta yang tinggal di daerah abu-abu karena konflik kepemilikan tanah. Warga harus berjuang mendapatkan hak-hak dasar untuk kelangsungan hidupnya. Film ini meraih penghargaan film terbaik Eagle Award 2011.

4.“Jadi Jagoan Ala Ahok” (Amelia Hapsari dan Chandra Tanzil, 2012, 38 menit)

Pembuat film mengikuti perjalanan kampanye Ahok merebut kursi DPR dari dapil Bangka Belitung. Selain gambar bergerak, film ini diwarnai oleh animasi kreatif dan musik pengiring yang menarik. Karya ini mendapat penghargaan film terbaik di Festival Film Dokumenter Yogya 2012 dan Festival Film Pendek XXI 2013.

Sabtu, 31 Agustus 2013

Boemboe Forum : enam sutradara film pendek mempresentasikan karyanya. Film-film ini didiskusikan di antara sesame sutradara film pendek dan penonton yang hadir. Sutradara film pendek yang hadir berasal dari Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Semarang.

14.00 – 15.00 : presentasi dan diskusi I

15.00 – 16.00 : presentasi dan diskusi II

16.00 – 16.15 : istirahat

16.15 –17.15 : presentasi dan diskusi III

17.15 – 18.15 : presentasi dan diskusi IV

18.15 – 18.45 : istirahat

18.45 – 19.45 : presentasi dan diskusi V

19.45 – 20.45 : presentasi dan diskusi VI

* Festival Film Dokumenter (FFD) adalah festival yang secara rutin digelar sejak 2002 di Yogyakarta.Festival ini diselenggarakan oleh IDOCLAB (Indonesia Documentary Lab) sebagai upaya peningkatan infrastruktur dokumenter di Indonesia.Tahun ini, FFD ke 12 akan diselenggarakan di Yogyakarta, pada 9-14 Desember 2013. FFD 12 akan menghadirkan Program Kompetisi, Perspektif, Spektrum, SEADOC focus on Myanmar, Masterclass, dan diskusi.

Waktu : Jumat dan Sabtu 30 dan 31 Agustus 2013

Tempat :  Bentara Budaya Jakarta,  Jl. Palmerah Selatan 17, Jakarta 10270.

Sumber : http://www.bentarabudaya.com/agenda.php?id=1415

Check Also

IDS Distorted Reality

INTERNATIONAL DESIGN SCHOOL GELAR EXHIBITION KARYA MAHASISWA IDS ANGKATAN 2017 BERTEMAKAN “DISTORTED REALITY”

Jakarta, 8 Juni 2018 – IDS | International Design School resmi menggelar acara Exhibiton bertema ...